Gagasan tentang perpustakan dan pusat kegiatan dan pembelajaran dalam komunitas muncul dari keprihatinan tentang:
-
Rendahnya akses masyarakat terhadap buku dan informasi yang disebabkan oleh:
-
Harga buku yang semakin mahal. Banyak anak yang tidak pernah membaca buku lain selain buku sekolahnya, karena orang tua tidak mampu membelikan buku.
-
Letak perpustakaan jauh dari daerah pemukiman, sementara itu perpustakaan-perpustakaan yang ada kebanyakan tidak menarik untuk anak-anak karena penampilannya yang tidak mengundang, di samping koleksinya tidak memadai.
-
Kebanyakan anggota masyarakat hanya dapat mengandalkan radio dan TV sebagai sumber informasi
-
-
Sistem sekolah yang cenderung membuat belajar mejadi proses sulit dinikmati anak-anak dan kurang mengembangkan kreatifitas serta kemampuan berpikir kritis pada anak-anak
-
Banyaknya anak-anak putus sekolah di daerah Arcamanik dan sekitarnya
-
Tidak ada sarana yang positif, mendidik, menyenangkan, aman dan mudah dicapai sebagai tempat anak-anak melewatkan waktunya sesudah pulang sekolah. Padahal kebanyakan anak-anak pulang sekitar jam 12.
-
Banyaknya anggota masyarakat di komunitas setempat dan sekitarnya yang bisa mengambil manfaat dari program-program pembelajaran, yang pada kenyataannya tidak mencapai mereka.
Karena keprihatinan ini 7 orang warga Arcamanik mendirikan Pondok Baca Arcamanik yang membuka pintunya pertamakali pada tanggal 21 April 2000. Pondok Baca Arcamanik dirancang sebagai sarana dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat.
Pondok Baca Arcamanik adalah taman bacaan pertama yang menggunakan nama Pondok Baca di Indonesia. Nama tersebut dipilih karena kata Pondok memberi rasa yang lebih akrab dan mengundang.
Rumah di Jl. Kano No. 1 adalah lokasi pertama Pondok Baca Arcamanik. Rumah tersebut dipinjamkan oleh keluarga Ali Kasmiri dan menjadi rumah Pondok Baca Arcamaik selama 3 tahun. Pondok Baca Arcamanik kemudian pindah ke Jl. Terjun Bebas dan ke kompleks Kelurahan Sukamiskin. Pada tahun 2005, Pondok Baca Aracamanik pindah Jl. Aracmanik Endah, Ruko III/5 sampai hari ini.




salam, bu ida..
delapan tahun sudah lewat, tapi saya msh ingat waktu rombongan pba jalan ke boscha pd 2001. jg waktu pba kebanjiran..
semoga pba tetap dan tambah sukses..
saat ini saya di pedalaman kaltim
Oleh: rekso on Juni 21, 2009
at 12:41 am